ulasberita.com, SUKABUMI – Proyek Peningkatan dan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Utama Kewenangan Daerah BBWS Citarum (Inpres Tahap III) yang dikerjakan oleh BUMN PT Brantas Abipraya dan PT Adhi Karya (Persero) kembali menuai sorotan. Pasalnya beberapa kebun dan rumah warga rusak di sebabkan aliran air irigasi tidak laiak fungsi.
Dari pantauan tim ulaberita.com di lokasi Di ketahui pembuangan akhir irigasi tepatnya di kp. Bojong larang rt 01/08 Desa bojongkokosan kec. Parungkuda kab. Sukabumi Jawa barat tidak berpungsi dengan baik. hal ini di sebabkan karena titik akhir pembuangan tidak laiak di gunakan. Pada Senin 06/04/2026.
Dari informasi di ketahui sumber anggaran sebagai berikut :
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pagu Anggaran: Rp 28.298.543.000-Sumber Dana: APBN TA 2025-Metode Pengadaan: Penunjukan Langsung-Pelaksana: PT Brantas Abipraya (Persero)-Durasi: 3 November 2025 – 31 Desember 2025 (58 hari)
Proyek ini mencakup tiga wilayah: Kabupaten Sukabumi, Purwakarta, dan Bandung Barat.Di Kabupaten Sukabumi, lokasi pekerjaan tersebar di-Kecamatan Cicurug, Desa Cisaat, Desa Caringin,Desa Nyankowek ,Desa Mekasari. Lingkup pekerjaan meliputi-bendung, bangunan sadap, saluran irigasi, hingga pekerjaan pintu air.
Peminpin redaksi ulasberita.com, Asep sopandi menyampaikan kritiknya usai meninjau langsung lokasi dan kondisi di lapangan. Bersama kepala bidang SDA Kab. Sukabumi
” Sangat di Sayangkan Paket Program Dengan anggaran besar ini masih menjadi polemik di lapangan, Dari catatan saya pekerjaan Normalisasi ini sangat jauh dengan hasilnya” Ungkap achong
Selain infrastruktur kami juga menemukan adanya beberapa hal janggal dalam kegiatan ini
” Jaringan irigasi sepanjang di mulai dari pintu bendung ci curug hingga kp. Bojonglarang hanya menggunakan 2 pembuangan atau sadap ( titik pertama di warungceuri Desa pondokasolandeuh dan Kedua di kp. Bojonglarang Bojongkokosan) Sementara debit air tidak terkontrol seberapa besarnya. Sudah kami dokumentasikan bagaimana meluapnya air saat hujan (video, potho). Artinya Secara teknis Normalisasi ini butuh kajian ulang agar aliran irigasi ini benar benar bisa di rasakan manfaat nya baik oleh warga maupun petani”. Paparnya
Masih Achong Bahar, Terbukti dari kejadian kemarin kami menerima laporan adanya beberapa kebun dan rumah warga masyarakat yang terdampak karena limpahan air tidak tertata melalui saluranya.
” Ini hal yang sering kami sampaikan sebagai kritik kepada pelaksana dan penanggung jawab kegiatan, baik itu kontraktor maupun dinas terkait. Antisipasi terhadap kejadian diluar kemampuan itu harus di pikirkan, artinya adanya kajian tentang dampak sebelum pekerjaan harusnya menjadi catatan dan prioritas. Buktinya saling lempar tanggung jawab akan terjadi setelah adanya korban dari kegiatan ini, terkahir saya minta hal kongkrit langkah cepat untuk penanganan kejadian ini”. Pungkasnya
Kepala bidang SDA Kab. Sukabumi, Yadi saat meninjau langsung lokasi menyampaikan
”Hari ini kami akan mengambil langkah kongkret usai meninjau lokasi, pertama kita Akan berkoordinasi dengan pihak adikarya serta BBWS dalam hal pelaksana kegiatan, kemudian kita sampaikan juga pada pimpinan agar segera di realisasikan apa yang sudah kami catat dan telaah hari ini. Langkah Kedua untuk menyegerakan perbaikan dan penataan jaringan irigasi ini, adapun dampak dari meluapnya air hingga berdampak pada rusaknya lahan warga di tambah dari informasi adanya rumah warga yang kebanjiran, ini adalah bentuk kelalayan dalam pelaksanaan pekerjaan, hasil infeksi hari ini akan menjadi catatan kami untuk segera kami sampaikan kepada pimpinan, semoga saja laporan ini segera di realisasikan secepatnya oleh pimpinan”. Ucapnya
Penulis : (Red*)














